Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Chef Umar Kelola Restoran Menu Indonesia di Madinah, Obati Ruang Rindu Jemaah

Kompas.com, 23 Juni 2026, 08:31 WIB
Pythag Kurniati,
Puspasari Setyaningrum

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com - Di tengah jutaan jemaah haji dan umrah yang datang ke Madinah setiap tahun, kerinduan pada cita rasa masakan Indonesia menjadi hal yang tak terhindarkan.

Kerinduan itu coba diobati oleh seorang pengusaha kuliner asal Indonesia melalui restoran The Java Signature yang menyajikan aneka menu khas Nusantara di Kota Nabi.

Dari bakso hingga pisang goreng, restoran tersebut menjadikan kuliner Indonesia sebagai jembatan pelepas rindu sekaligus sarana mengenalkan cita rasa Tanah Air kepada masyarakat Arab Saudi.

"Saya punya mimpi ingin mengenalkan masakan Indonesia kepada dunia," kalimat tersebut mengalir dari mulut Muhammad Sarwono Tayibi Alakhir (52) atau yang biasa disapa Chef Umar.

Baca juga: Kisah Ipang, WNI yang Sukses Jual 500 Porsi Bakso per Hari di Jabal Magnet Madinah

Pemilik restoran The Java Signature itu menyebut, Allah telah mengabulkan impiannya.

Umar yang berasal dari Cilacap, Jawa Tengah baru saja membuka restoran keduanya sejak 8 Mei 2026 di wilayah Madinah, tepatnya dua menit dari Universitas Islam Madinah dan Taiba University.

Baca juga: Mencicipi Bakso Pak Omar di Jabal Uhud, Juga Digemari oleh Warga Saudi

Dari restorannya, Umar mengenalkan menu-menu Indonesia seperti bakso dan pisang goreng, bahkan kepada warga lokal Arab Saudi.

Impiannya mengenalkan makanan Indonesia ke 'meja' dunia telah dimulai 2011, sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi.

"Bisa dibilang, Java Signature salah satu pencetus citarasa Indonesia di Madinah. Bahkan di Saudi yang tadinya enggak ada pisang goreng sekarang mereka mengenal pisang goreng," kata Umar saat ditemui Senin (22/6/2026).

Cara Chef Umar 'Menjaga' Rasa*

Mempertahankan citarasa Indonesia di negeri orang tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun Chef Umar memiliki cara agar jemaah tetap merasakan 'kampung halaman' ketika menyantap masakannya.

"Saya orang yang lebih mengutamakan rasa dibanding sekadar target materi," imbuhnya.

Demi melakukan hal itu, tak jarang Umar bekerja sama dengan kolega dan kerabatnya untuk menyediakan bumbu-bumbu langsung dari Indonesia.

Dia pun memiliki kenalan travel yang bersedia membantunya menghadirkan bumbu makanan terbaik untuk masakannya.

Demi mempertahankan rasa 'Indonesia', Umar juga turun tangan langsung memasak.

"Untuk mempertahankan rasa memang kadang saya titip bumbunya dari travel, memang banyak yang kenal. Kalau travel ke sini telepon saya ngabarin saya, Pak mau menitip apa," ujarnya.

Umar juga melakukan inovasi dengan menghadirkan menu-menu baru Nusantara. "Kemarin mencoba sambal tempong versi Jawa Timur dan Jawa Barat dan ternyata peminatnya banyak," katanya.

Selama mengelola dua restorannya, yakni The Java Signature 1 di wilayah Jabal Uhud dan The Java Signature 2 di Al Salam Garden, Umar dibantu delapan karyawan yang mayoritas berasal dari Indonesia.

Sehingga jemaah haji dan umrah merasakan 'rasa Tanah Air' yang otentik dari tangan-tangan pekerja dari Indonesia.

Potret jemaah haji asal Tangerang, Banten mangobati kangen dengan menyantap kuliner nusantara di restoran The Java Signature, Madinah.Dok. MCH 2026 Potret jemaah haji asal Tangerang, Banten mangobati kangen dengan menyantap kuliner nusantara di restoran The Java Signature, Madinah.

Mengobati Ruang Rindu Jemaah

Salah satu jemaah haji asal Tangerang, Banten, Muslimah Indri Astuti (49) mengatakan, kerinduannya akan masakan Indonesia tertuntaskan setelah berkunjung restoran Chef Umar. Makanan yang menjadi favoritnya adalah sambal.

"Sambalnya sangat mantap, cocok sekali di lidah Indonesia," ungkap dia.

Perwakilan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Ichsan Kamil (38) mengungkapkan, masakan Chef Umar mengobati ruang rindu jemaah terhadap masakan Tanah Air.

Jemaah yang telah berpisah dengan keluarga dan kampung halaman pun merasa seperti menyantap makanan di Tanah Air.

"Tadi kami memesan tempe orek, telur sambal balado dan yang paling mendapatkan pujian dari jemaah sambalnya, banyak yang merasa puas," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Tutup Munas dan Konbes NU, Prabowo: Kekayaan Negara Terlalu Banyak Hilang, Pemerintah Bertekad Hentikan Kebocoran
Tutup Munas dan Konbes NU, Prabowo: Kekayaan Negara Terlalu Banyak Hilang, Pemerintah Bertekad Hentikan Kebocoran
Aktual
Prabowo Ungkap Kedekatan dengan NU Sejak Kecil, Sebut Organisasi Paling Nasionalis dan Patriotik
Prabowo Ungkap Kedekatan dengan NU Sejak Kecil, Sebut Organisasi Paling Nasionalis dan Patriotik
Aktual
Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua? Simak Hukumnya Menurut Ulama
Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua? Simak Hukumnya Menurut Ulama
Aktual
Prabowo Hadiri Penutupan Munas dan Konbes NU 2026, Gus Yahya Tegaskan Kesetiaan NU untuk Bangsa
Prabowo Hadiri Penutupan Munas dan Konbes NU 2026, Gus Yahya Tegaskan Kesetiaan NU untuk Bangsa
Aktual
Kemenhaj Bakal Evaluasi City Tour Haji, Menhaj Irfan: Banyak Jamaah Kelelahan Usai Armuzna
Kemenhaj Bakal Evaluasi City Tour Haji, Menhaj Irfan: Banyak Jamaah Kelelahan Usai Armuzna
Aktual
DPR Minta BPKH Kaji Kebijakan Haji Arab Saudi yang Berdampak pada Biaya Haji Tahun Depan
DPR Minta BPKH Kaji Kebijakan Haji Arab Saudi yang Berdampak pada Biaya Haji Tahun Depan
Aktual
Kemenhaj Akan Evaluasi Program City Tour Haji yang Dinilai Picu Kelelahan Jemaah
Kemenhaj Akan Evaluasi Program City Tour Haji yang Dinilai Picu Kelelahan Jemaah
Aktual
Kemenhaj Seragamkan Pelatihan Petugas Haji Pusat dan Daerah untuk Tingkatkan Layanan di 2027
Kemenhaj Seragamkan Pelatihan Petugas Haji Pusat dan Daerah untuk Tingkatkan Layanan di 2027
Aktual
Kemenhaj: Sebanyak 120 Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi
Kemenhaj: Sebanyak 120 Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi
Aktual
BPKH: Kenaikan Setoran Awal Haji Belum Diterapkan, Tambahan Dana Rp 5,65 Triliun Tertahan
BPKH: Kenaikan Setoran Awal Haji Belum Diterapkan, Tambahan Dana Rp 5,65 Triliun Tertahan
Aktual
Mengapa Warga Memborong Alat Dapur pada 10 Muharram? Ini Makna Tradisi Unik di Hari Asyura
Mengapa Warga Memborong Alat Dapur pada 10 Muharram? Ini Makna Tradisi Unik di Hari Asyura
Aktual
Makna dan Amalan Utama Hari Asyura 10 Muharram
Makna dan Amalan Utama Hari Asyura 10 Muharram
Aktual
Peristiwa Sejarah Hari Asyura 10 Muharram dan Anjuran Puasa dalam Ajaran Islam
Peristiwa Sejarah Hari Asyura 10 Muharram dan Anjuran Puasa dalam Ajaran Islam
Aktual
Munas-Konbes NU 2026 Dorong Dapur Pesantren Jadi Mitra MBG, Sahkan 6 Rekomendasi untuk Pemerintah
Munas-Konbes NU 2026 Dorong Dapur Pesantren Jadi Mitra MBG, Sahkan 6 Rekomendasi untuk Pemerintah
Aktual
Munas-Konbes NU 2026 Desak Pemerintah Tetapkan Dana Abadi Pesantren, Ini 5 Rekomendasinya
Munas-Konbes NU 2026 Desak Pemerintah Tetapkan Dana Abadi Pesantren, Ini 5 Rekomendasinya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com